Rabu, 20 Januari 2021

Satria, Si Anak Tangguh

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak laki-laki yang berusia 16 tahun dan baru duduk di kelas 3 SMA, ia bernama Satria. Dia merupakan anak tunggal dalam keluarganya sehingga ia mempunyai mimpi yang besar untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Namun, dalam keluarga Satria ini, orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani, sehingga orang tuanya tidak mampu untuk menyekolahkan Satria sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Liburan sekolah semester 4 telah berlalu, Satria yang berjalan dengan penuh semangat pergi ke sekolahnya, dia sangat merindukan suasana sekolah yang begitu ramai. Sesampainya Satria di sekolah, dia langsung bergegas mencari kelas barunya sebelum bel berbunyi, tetapi pada saat itu terdengar suara yang tak asing lagi di telinga Satria.

    "Satriaaa, disini, disini!" lambaian tangan Roni yang diiringi teriakan Kenzhi yang nyaring.

Satria pun langsung melihatnya, tanpa basa-basi lagi dia langsung berjalan cepat menghampiri mereka berdua. Dan mereka pun langsung masuk ke dalam kelas barunya itu. Roni dan Kenzhi memilih kursi paling belakang, tetapi Satria lebih memilih kursi yang terletak agak di depan. Terlihat raut wajah Roni yang kebingungan dengan sikap Satria yang sedikit berubah, Roni pun langsung menghampirinya.

    "Satria, kau kenapa? Kan biasanya duduk sama kami di belakang" tanya Roni.

    "Sebenarnya selama liburan ini aku selalu bantu orang tuaku di sawah karena... yah pasti kau tahu lah. Kami cari makan aja susah, jadi mau tidak mau aku harus bantu mereka" jelas Satria.

Mendengar pembicaraan itu, Kenzhi pun datang dan langsung duduk di kursi sebelah Roni.

    "Dan juga, aku tersadar bahwa sebentar lagi kita lulus sekolah dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Apalagi aku yang anak tunggal, pasti menjadi harapan bagi keluarga. Tapi selama ini, aku sering tidak mengikuti jam pelajaran, tidak kerjakan tugas, bahkan lolos sekolah sama kalian. Jadi juga sering mendapatkan nilai yang rendah. Selagi masih ada waktu sekitar kurang lebih 11 bulan, aku mau perbaiki semuanya baik itu perilaku dan nilaiku juga. Supaya aku bisa melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi dan bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus" lanjut Satria.

    "Wah... temanku kali ini sudah sadar yah. Kalau kau Roni kapan sadarnya?" ledek Kenzhi.

    "Kayak kau sudah sadar aja" jawab Roni dengan nada sedikit kesal.

    "Hahaha... canda aja bro. Jangan kesal" ucap Kenzhi.

    Teng...teng...teng. Waktunya jam pelajaran dimulai, diharapkan seluruh siswa segera memasuki kelas masing-masing.

Bel sekolah telah terdengar, dan mereka pun langsung kembali ke tempat duduk masing-masing. Tidak lama kemudian, wali kelas mereka pun datang. Suasana kelas yang awalnya sangat ribut pun tiba-tiba menjadi hening. Seperti biasa jika hari pertama masuk sekolah, guru hanya datang ke kelas untuk mengecek kehadiran muridnya, kemudian menanyakan kabar juga kegiatan mereka sewaktu liburan. Setelah itu, siswa diberikan jam kosong sampai tiba waktunya pulang.

Keesokan harinya, terlihat Satria yang sudah sampai terlebih dahulu di sekolah, kemudian Satria belajar dengan sangat serius di kelas sendirian. Karena pada saat itu Satria berangkat ke sekolah terlalu pagi. Satu persatu teman sekelasnya berdatangan, kemudian tiba saatnya jam pelajaran dimulai. Satria yang terlihat rajin dan tekun belajar itu mendapat pujian dari beberapa guru yang mengajar pada hari itu.

Seiring berjalannya waktu, nilai Satria kini semakin meningkat bahkan pada saat semester ganjil lalu pun Satria mendapatkan juara kelas. Tetapi itu semua membuat Satria jarang berkumpul dengan temannya.

    "Satria... kau kenapa sih? Jarang banget mau gabung sama kami kalau ada kumpulan. Kan lumayan buat refreshing otak juga" ucap Kenzhi.

    "Iya nih... sekali-kali kan tidak masalah supaya kau enggak stress" lanjut Roni.

   "Bukannya kalian sudah pada tahu, aku seperti ini karena apa. Aku enggak bisa tinggalkan mereka kerja berdua aja, dan malamnya itu pun aku langsung lanjut belajar" jelas Satria.

Sampai pada akhirnya, tibalah hari dinantikan. Satria lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan dan menempati posisi sebagai siswa lulusan terbaik di tahunnya. Pada saat Satria berfoto-foto dengan teman sekelasnya, ia dipanggil oleh wali kelas untuk datang menemui kepala sekolah di kantor. Setibanya di sana, Satria langsung mendapat sambutan baik dari kepala sekolah.

    “Halo... selamat yah Satria. Bapak tidak sangka kalau kamu menjadi siswa terbaik di tahun ini. Dan guru di sini juga banyak yang membicarakanmu kalau kamu benar-benar sudah berubah sekarang. Bapak kagum dengan perjuangan yang sudah kamu lakukan untuk memperbaiki nilai kamu dari sebelumnya. Jadi bapak ingin memberikan hadiah untukmu dan bapak harap ini bisa membantumu kelak” ucap bapak kepala sekolah.

    “Terima kasih banyak Pak, atas ucapan selamat dan hadiahnya” jawab Satria.

   “Sama-sama nak. Semangat terus yah Satria. Sekarang kamu boleh kembali bersama teman-temanmu” jawab bapak kepala sekolah itu.

Kebetulan saat Satria keluar dari kantor, terlihat semua siswa sudah pulang. Kemudian, Satria langsung bergegas ke kelas untuk mengambil tasnya lalu pulang dan sesampainya Satria di rumah, Satria langsung menceritakan semua yang terjadi di sekolah dan memberikan amplop itu kepada orang tuanya. Tanpa basa-basi lagi ayahnya langsung membuka amplop yang diberikan oleh Satria itu. Dan ternyata isi amplop itu adalah selembar surat keterangan bahwa Satria mendapat beasiswa untuk kuliah di PTN favorit di kota.

    "Puji Tuhan, nak. Selamat yah akhirnya kamu bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah" ucap ibunya dan langsung memeluk juga mencium Satria, anaknya itu. Kemudian ayahnya pun datang dan memeluk mereka berdua. Isak tangis bahagia dan ucapan doa syukur itu pun langsung terdengar dari rumah kecil itu.

Beberapa bulan kemudian, pada saat pengumuman hasil seleksi PTN itu ditampilkan dan Satria menjadi salah satu yang lulus di PTN tersebut. Satria pun langsung menyampaikan informasi ini kepada kedua orang tuanya. Dan mereka langsung memeluk juga memberi selamat kepada Satria.

Keesokan harinya, tiba saatnya Satria pergi ke kota. Kemudian, Satria membawa kopernya dan mengajak orang tuanya untuk berkumpul di teras rumahnya. Dan Satria pun membuka pembicaraan mereka dengan meminta izin jika Satria harus meninggalkan orang tuanya untuk pergi ke kota.

    "Satria, sebenarnya ibu enggak rela kalau kamu jauh dari ibu, Tapi ini demi masa depan kamu, nak. Jadi ibu harus bisa merelakan kamu untuk pergi ke kota dan ingat pesan ibu untuk sering menghubungi kami di sini, agar kami bisa mendengar suaramu dan mengetahui kabarmu di sana" ucap ibunya dengan nada yang sedikit gemetar sambil meneteskan air mata.

    "Ayah kasih satu pesan buat kamu juga, agar selalu semangat menggapai cita-citamu. Buatlah orang tuamu bangga dengan hasil capaianmu itu" lanjut ayahnya itu. Yang kemudian memberikan pelukan hangat kepada Satria.

    "Ayah, ibu. Maafkan atas semua kelakuan Satria selama ini. Satria mohon doa restu agar bisa sampai di kota dengan selamat. Dan selama Satria di sana, Satria bisa kuliah dengan baik dan mendapatkan pekerjaan yang bagus" ucap Satria sambil memegang kedua tangan orang tuanya dan mencium kedua orang tuanya itu. Kemudian, Satria langsung pamit, dan masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput Satria itu. 

Setelah Satria sampai di kota, ia langsung menelpon kedua orang tuanya dan memberikan kabar bahwa dia sudah sampai di kota dengan selamat. Kemudian, Satria mencari rumah kos yang letaknya tidak jauh dari universitasnya. Tidak memakan waktu yang cukup lama, Satria pun akhirnya mendapatkan rumah kos itu, meskipun rumahnya kecil dan sempit, ia tetap bersyukur. Karena perjalanan yang cukup panjang tadi membuat Satria lelah dan ia langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

Langit mulai gelap dan udara semakin dingin. Satria yang duduk di atas kasurnya terlihat sedang mencari informasi terbaru tentang hari ini, dan dia mendapatkan berita bahwa virus yang awalnya ada di China, kini sudah masuk ke Indonesia. Dan pemerintah Indonesia pun mengeluarkan aturan PSBB yang membuat seluruh kegiatan masyarakat terhambat karena semuanya harus dilakukan dari rumah masing-masing. Bahkan, ini sangat berdampak bagi pelajar dan mahasiswa karena harus menjalani kegiatan belajarnya melalui daring. Jadi, dengan keadaan yang mendesak mereka harus bisa segera beradaptasi. Setelah itu, Satria langsung berdoa tentang keadaan yang terjadi kemudian pergi beristirahat.

Tiba saatnya hari pertama kuliah, dan sudah terlihat bahwa Satria siap untuk belajar. Tapi kali ini berbeda, hanya dengan modal gadget dan kuota internet, Satria bisa ikut kegiatan belajar melalui aplikasi Zoom.

    "Selamat pagi anak-anak. Bagaimana keadaan kalian semua? Sehat?" tanya dosen mereka.

     "Sehat, Pak" jawab serentak mahasiswa itu.

    "Berhubung kita saat ini diperhadapkan keadaan, yang dimana mewajibkan kalian untuk belajar dari rumah masing-masing, jadi bapak harap kalian harus bisa selalu menyiapkan kuota internet agar bisa mengikuti kegiatan belajar dengan baik" jelas dosen mereka.

Mendengar perkataan dosen itu, membuat Satria berniat untuk mencari kerja sampingan, karena uang yang diberikan orang tuanya itu tidaklah cukup untuk kebutuhan hidupnya di kota, apalagi tiap bulannya Satria harus bisa membayar uang sewa rumah dan membeli kuota internet untuk belajar. Dan walaupun Satria bisa pulang ke rumah orang tuanya, dia tetap tidak mau pulang karena Satria tidak ingin membebani orang tuanya lagi. Pada saat itu, ternyata pemilik rumah kos nya mempunyai warung, kemudian Satria berniat menawarkan dirinya untuk bisa bekerja di warung pemilik kos itu sebagai penjaga warung. 

    "Permisi bu, apakah saya boleh bekerja di sini sebagai penjaga warungnya ibu?" tanya Satria dengan sopan.

    "Ohh kebetulan saya memang lagi cari orang nih yang bisa bantu saya jaga warung. Karena anak saya masih kecil dan suka rewel. Jadi saya kerepotan kalau sambil jaga warung ini" jawab ibu itu.

    "Pas banget yah bu, saya juga lagi butuh uang supaya bisa membiayai hidup saya di kota ini" ucap Satria sambil menghela napas lega.

Hari berjalan seperti biasanya, sebelum mulai belajar Satria menyempatkan waktu untuk menjaga warung dan setelah selesai belajar dia kembali lagi untuk bekerja. Karena kesibukan Satria yang seperti ini sudah berjalan hampir 2 tahun lamanya, membuat Satria merasa sangat capek dan jenuh.

    "Ternyata menjadi orang sukses itu susah. Apalagi jika harus tinggal sendirian di kota, kuliah sambil bekerja, dan menghadapi situasi pandemi seperti ini yang membuat aku tidak bisa bertemu langsung dengan teman baru"

    "Apakah aku boleh berhenti kuliah ya?"

Lamunan Satria ini sontak membuat dia teringat akan pesan ayahnya, kalau dia harus semangat menggapai cita-citanya, juga mengingat perjuangan yang sudah ia lakukan selama SMA untuk meningkatkan nilainya agar bisa kuliah di kota ini.

Beberapa tahun kemudian, setelah Satria lulus kuliah. Dia mendapatkan pekerjaan yang bagus di salah satu perusahaan ternama di kota. Selama bekerja di sana, Satria hanya akrab dengan salah satu pegawai perempuan, ia bernama Mulia.

    "Satria, nanti kita pulang bareng yah, sekalian kita makan siang. Soalnya ada yang mau aku ceritain nih" ucap Mulia.

   "Waduh, kerjaanku numpuk banget ini. Kayaknya aku bakal pulang agak lambat" jawab Satria.

    "Oke, aku bantuin deh. Biar cepat kelar" balas Mulia.

    "Kita nanti makan di warteg aja ya, mau hemat nih" ucap Satria.

    "Gak masalah, asalkan bisa kenyang" jawab Mulia.

Hari demi hari, kedekatan mereka semakin terlihat. Tingkah laku Mulia yang ceria dapat membuat Satria jatuh hati kepadanya. Tetapi, mengingat pembicaraan mereka yang lalu, bahwa orang tua Mulia tidak suka dengan hubungan mereka saat ini, karena mereka berbeda keyakinan. Meskipun itu, Satria tetap akan berusaha agar selalu bisa bersama dengan Mulia.

Pelan-pelan Satria mulai memperdalam agamanya dengan membaca kitab setiap hari. Dan mulai mengajak Mulia untuk berdiskusi tentang agama, tetapi Mulia selalu terlihat tidak tertarik membicarakan topik itu. Karena itulah, hubungan mereka makin renggang dan mulai tidak berkomunikasi lagi. Ternyata pada malam itu, Satria mencoba untuk menelpon Mulia agar bisa menanyakan kabarnya.

    "Satria, aku enggak bisa jauh dari kamu. Tapi aku takut sama orang tuaku, mereka pasti marah kalau tahu tentang ini" ucap Mulia, sebelum Satria sempat menanyakan kabarnya terlebih dahulu.

   "Mulia, aku tahu gimana perasaanmu. Bagaimana jika kamu berikan penjelasan dengan baik dulu ke orang tuamu, bahwa kamu yakin dengan keputusanmu dan siap menghadapi resikonya ke depan" jelas Satria dengan lembut.

    "Baiklah akan ku coba. Besok aku beritahu kamu yah gimana hasilnya" jawab Mulia.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk meyakinkan Mulia dan orang tuanya agar kekasihnya itu bisa menjadi penganut agama yang sama dengannya.

Beberapa bulan kemudian, Satria mendapatkan kabar bahwa ibunya sedang sakit. Dengan segera Satria meminta izin kepada orang tuanya Mulia agar anaknya diperbolehkan ikut dengannya ke desa. Orang tua Mulia pun juga langsung mengizinkannya. Setelah mereka sampai di rumahnya, Satria langsung menangis melihat ibunya yang terbaring lemah dikasurnya itu.

   "Ibu...maafkan Satria bu. Selama ini Satria sudah tidak pernah menelpon bahkan menanyakan kabar ibu" ucap Satria sambil berlutut di samping kasur ibunya.

    "Ayah, ibu. Lihat ini pacar Satria, namanya Mulia. Dia juga tinggal di kota yang sama dengan Satria, dan kebetulan kami satu tempat kerja juga" lanjut Satria, yang kemudian ia merasa senang karena bisa melihat senyuman ibunya itu.

   "Halo...tante, om. Perkenalkan nama saya Mulia, pacar Satria" ucap Mulia yang terlihat sedikit menunduk karena gugup.

Satria dan Mulia memutuskan untuk tinggal beberapa minggu di rumah orang tuanya Satria. Mulia setiap harinya selalu menemani dan menjaga ibunya Satria, sedangkan Satria kembali membantu ayahnya di sawah. Selama mereka tinggal di desa, kondisi ibunya Satria semakin memburuk, yang kemudian mereka membawa ibunya itu ke rumah sakit. Tetapi waktu sudah terlambat, ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, ibunya Satria telah pergi untuk selamanya. Pada saat itulah, Satria tidak bisa berhenti menangis dan meminta maaf kepada ibunya, meskipun dia tahu bahwa itu semua sudah sia-sia.

    "Sudah, nak. Ikhlaskan ibumu, nak. Tuhan sayang sama ibu, jadi ibumu sekarang tidak merasakan sakit lagi. Tugasmu sekarang hanya mendoakan ibu supaya dia bisa tenang di sana" ucap ayahnya itu sambil mengelus kepala Satria.

    "Tapi ayah, Satria belum sempat membahagiakan ibu malahan selama ini Satria buat ibu sakit hati, karena Satria lupa dengan pesan ibu" jawab Satria dengan tersedu-sedu.

    "Sudahlah, nak. Kan kamu tidak sendirian di sini. Masih ada ayah dan Mulia" ucap ayahnya.

Dua hari setelah pemakaman ibunya, Satria mengajak ayahnya untuk ikut pulang dengan mereka ke kota, karena Satria ingin selalu bersama dengan ayahnya supaya dia tidak kehilangan ayahnya lagi.

    "Ayah, ikut kami ke kota yah. Satria takut kalau ayah tinggal sendirian di sini. Nanti tidak ada yang mengurus dan menemani ayah" ucap Satria. Tetapi ayahnya tidak langsung menjawab karena masih memikirkan keputusannya sambil melihat-lihat seisi rumahnya yang penuh dengan kenangan bersama istrinya itu. Tidak lama kemudian, ayahnya menghampiri Satria.

    "Baiklah, ayah mau ikut dengan kalian. Ayah juga harus bisa berusaha merelakan kepergian ibu" ucap ayahnya.

Setelah beberapa bulan Satria dan ayahnya tinggal bersama di rumah kos, tempat tinggal Satria itu. Akhirnya, Satria bisa membeli rumah baru, di salah satu daerah perumahan di kota. Sehingga mereka sudah bisa tinggal dengan nyaman di rumah. Pada waktu itu, Satria dengan ayahnya sedang asyik mengobrol di ruang tamu, tiba-tiba Satria menanyakan sesuatu yang mengejutkan ayahnya.

    "Ayah, Satria boleh tidak menikah dengan Mulia?" tanya Satria.

    "Apa? Menikah dengan Mulia?" jawab ayahnya.

   "Iya ayah. Satria ingin menikah dengan Mulia, apakah ayah merestuinya?" tanya Satria lagi.

   "Apapun keputusan kamu, ayah selalu mendukungmu. Selagi itu masih benar dan wajar, toh kalian juga sudah lama berpacaran kan" jawab ayahnya.

Kemudian, Satria langsung memeluk ayahnya itu dan mengucapkan terima kasihnya karena sudah merestui mereka berdua. Keesokan harinya, Satria langsung melamar Mulia.

Tibalah saatnya hari pernikahan Satria dan Mulia, acara itu berjalan dengan lancar dan penuh haru. Tetapi, tidak semua keluarga besar dari mereka berdua bisa hadir langsung dalam acara pernikahan mereka, karena mengingat kondisi saat ini yang melarang  untuk membuat kerumunan besar. Namun, mereka semua bisa menyaksikan seluruh acara melalui live streaming.

Akhirnya, setelah beberapa tahun kemudian, kehidupan keluarga Satria kini berjalan dengan penuh kebahagiaan. Ditambah lagi, Satria dan Mulia sekarang telah dikaruniai dua orang anak yang baik dan patuh kepada orang tua.


SELESAI

Rabu, 13 Januari 2021

Merancang Novel

Hai, lama tidak berjumpa kawan.

Bagaimana kabarmu hari ini? semoga dalam keadaan sehat yaa..

Kali ini aku akan memberitahu kalian, bahwa saat ini aku sedang dalam proses pembuatan novel pertama. Dan sekarang aku akan menunjukkan kepada kalian rancangan novelnya, sebagai berikut :

1. Menentukan peristiwa terpilih dan merumuskan masalah-masalah


 2. Menentukan tema, amanat dan rancangan peristiwa/alur singkat


3. Merancang alur novelet
 
4. Mengembangkan tahapan orientasi menjadi cerita utuh novelet

Semoga yang kusampaikan ini dapat bermanfaat dan membantu kalian juga yang ingin membuat novel. Aku juga membutuhkan saran dan kritik dari kalian untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang tidak berkenan.

Satria, Si Anak Tangguh

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak laki-laki yang berusia 16 tahun dan baru duduk di kelas 3 SMA, ia bernama Satria. Dia merupakan anak t...