Rabu, 20 Januari 2021

Satria, Si Anak Tangguh

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak laki-laki yang berusia 16 tahun dan baru duduk di kelas 3 SMA, ia bernama Satria. Dia merupakan anak tunggal dalam keluarganya sehingga ia mempunyai mimpi yang besar untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Namun, dalam keluarga Satria ini, orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani, sehingga orang tuanya tidak mampu untuk menyekolahkan Satria sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Liburan sekolah semester 4 telah berlalu, Satria yang berjalan dengan penuh semangat pergi ke sekolahnya, dia sangat merindukan suasana sekolah yang begitu ramai. Sesampainya Satria di sekolah, dia langsung bergegas mencari kelas barunya sebelum bel berbunyi, tetapi pada saat itu terdengar suara yang tak asing lagi di telinga Satria.

    "Satriaaa, disini, disini!" lambaian tangan Roni yang diiringi teriakan Kenzhi yang nyaring.

Satria pun langsung melihatnya, tanpa basa-basi lagi dia langsung berjalan cepat menghampiri mereka berdua. Dan mereka pun langsung masuk ke dalam kelas barunya itu. Roni dan Kenzhi memilih kursi paling belakang, tetapi Satria lebih memilih kursi yang terletak agak di depan. Terlihat raut wajah Roni yang kebingungan dengan sikap Satria yang sedikit berubah, Roni pun langsung menghampirinya.

    "Satria, kau kenapa? Kan biasanya duduk sama kami di belakang" tanya Roni.

    "Sebenarnya selama liburan ini aku selalu bantu orang tuaku di sawah karena... yah pasti kau tahu lah. Kami cari makan aja susah, jadi mau tidak mau aku harus bantu mereka" jelas Satria.

Mendengar pembicaraan itu, Kenzhi pun datang dan langsung duduk di kursi sebelah Roni.

    "Dan juga, aku tersadar bahwa sebentar lagi kita lulus sekolah dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Apalagi aku yang anak tunggal, pasti menjadi harapan bagi keluarga. Tapi selama ini, aku sering tidak mengikuti jam pelajaran, tidak kerjakan tugas, bahkan lolos sekolah sama kalian. Jadi juga sering mendapatkan nilai yang rendah. Selagi masih ada waktu sekitar kurang lebih 11 bulan, aku mau perbaiki semuanya baik itu perilaku dan nilaiku juga. Supaya aku bisa melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi dan bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus" lanjut Satria.

    "Wah... temanku kali ini sudah sadar yah. Kalau kau Roni kapan sadarnya?" ledek Kenzhi.

    "Kayak kau sudah sadar aja" jawab Roni dengan nada sedikit kesal.

    "Hahaha... canda aja bro. Jangan kesal" ucap Kenzhi.

    Teng...teng...teng. Waktunya jam pelajaran dimulai, diharapkan seluruh siswa segera memasuki kelas masing-masing.

Bel sekolah telah terdengar, dan mereka pun langsung kembali ke tempat duduk masing-masing. Tidak lama kemudian, wali kelas mereka pun datang. Suasana kelas yang awalnya sangat ribut pun tiba-tiba menjadi hening. Seperti biasa jika hari pertama masuk sekolah, guru hanya datang ke kelas untuk mengecek kehadiran muridnya, kemudian menanyakan kabar juga kegiatan mereka sewaktu liburan. Setelah itu, siswa diberikan jam kosong sampai tiba waktunya pulang.

Keesokan harinya, terlihat Satria yang sudah sampai terlebih dahulu di sekolah, kemudian Satria belajar dengan sangat serius di kelas sendirian. Karena pada saat itu Satria berangkat ke sekolah terlalu pagi. Satu persatu teman sekelasnya berdatangan, kemudian tiba saatnya jam pelajaran dimulai. Satria yang terlihat rajin dan tekun belajar itu mendapat pujian dari beberapa guru yang mengajar pada hari itu.

Seiring berjalannya waktu, nilai Satria kini semakin meningkat bahkan pada saat semester ganjil lalu pun Satria mendapatkan juara kelas. Tetapi itu semua membuat Satria jarang berkumpul dengan temannya.

    "Satria... kau kenapa sih? Jarang banget mau gabung sama kami kalau ada kumpulan. Kan lumayan buat refreshing otak juga" ucap Kenzhi.

    "Iya nih... sekali-kali kan tidak masalah supaya kau enggak stress" lanjut Roni.

   "Bukannya kalian sudah pada tahu, aku seperti ini karena apa. Aku enggak bisa tinggalkan mereka kerja berdua aja, dan malamnya itu pun aku langsung lanjut belajar" jelas Satria.

Sampai pada akhirnya, tibalah hari dinantikan. Satria lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan dan menempati posisi sebagai siswa lulusan terbaik di tahunnya. Pada saat Satria berfoto-foto dengan teman sekelasnya, ia dipanggil oleh wali kelas untuk datang menemui kepala sekolah di kantor. Setibanya di sana, Satria langsung mendapat sambutan baik dari kepala sekolah.

    “Halo... selamat yah Satria. Bapak tidak sangka kalau kamu menjadi siswa terbaik di tahun ini. Dan guru di sini juga banyak yang membicarakanmu kalau kamu benar-benar sudah berubah sekarang. Bapak kagum dengan perjuangan yang sudah kamu lakukan untuk memperbaiki nilai kamu dari sebelumnya. Jadi bapak ingin memberikan hadiah untukmu dan bapak harap ini bisa membantumu kelak” ucap bapak kepala sekolah.

    “Terima kasih banyak Pak, atas ucapan selamat dan hadiahnya” jawab Satria.

   “Sama-sama nak. Semangat terus yah Satria. Sekarang kamu boleh kembali bersama teman-temanmu” jawab bapak kepala sekolah itu.

Kebetulan saat Satria keluar dari kantor, terlihat semua siswa sudah pulang. Kemudian, Satria langsung bergegas ke kelas untuk mengambil tasnya lalu pulang dan sesampainya Satria di rumah, Satria langsung menceritakan semua yang terjadi di sekolah dan memberikan amplop itu kepada orang tuanya. Tanpa basa-basi lagi ayahnya langsung membuka amplop yang diberikan oleh Satria itu. Dan ternyata isi amplop itu adalah selembar surat keterangan bahwa Satria mendapat beasiswa untuk kuliah di PTN favorit di kota.

    "Puji Tuhan, nak. Selamat yah akhirnya kamu bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah" ucap ibunya dan langsung memeluk juga mencium Satria, anaknya itu. Kemudian ayahnya pun datang dan memeluk mereka berdua. Isak tangis bahagia dan ucapan doa syukur itu pun langsung terdengar dari rumah kecil itu.

Beberapa bulan kemudian, pada saat pengumuman hasil seleksi PTN itu ditampilkan dan Satria menjadi salah satu yang lulus di PTN tersebut. Satria pun langsung menyampaikan informasi ini kepada kedua orang tuanya. Dan mereka langsung memeluk juga memberi selamat kepada Satria.

Keesokan harinya, tiba saatnya Satria pergi ke kota. Kemudian, Satria membawa kopernya dan mengajak orang tuanya untuk berkumpul di teras rumahnya. Dan Satria pun membuka pembicaraan mereka dengan meminta izin jika Satria harus meninggalkan orang tuanya untuk pergi ke kota.

    "Satria, sebenarnya ibu enggak rela kalau kamu jauh dari ibu, Tapi ini demi masa depan kamu, nak. Jadi ibu harus bisa merelakan kamu untuk pergi ke kota dan ingat pesan ibu untuk sering menghubungi kami di sini, agar kami bisa mendengar suaramu dan mengetahui kabarmu di sana" ucap ibunya dengan nada yang sedikit gemetar sambil meneteskan air mata.

    "Ayah kasih satu pesan buat kamu juga, agar selalu semangat menggapai cita-citamu. Buatlah orang tuamu bangga dengan hasil capaianmu itu" lanjut ayahnya itu. Yang kemudian memberikan pelukan hangat kepada Satria.

    "Ayah, ibu. Maafkan atas semua kelakuan Satria selama ini. Satria mohon doa restu agar bisa sampai di kota dengan selamat. Dan selama Satria di sana, Satria bisa kuliah dengan baik dan mendapatkan pekerjaan yang bagus" ucap Satria sambil memegang kedua tangan orang tuanya dan mencium kedua orang tuanya itu. Kemudian, Satria langsung pamit, dan masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput Satria itu. 

Setelah Satria sampai di kota, ia langsung menelpon kedua orang tuanya dan memberikan kabar bahwa dia sudah sampai di kota dengan selamat. Kemudian, Satria mencari rumah kos yang letaknya tidak jauh dari universitasnya. Tidak memakan waktu yang cukup lama, Satria pun akhirnya mendapatkan rumah kos itu, meskipun rumahnya kecil dan sempit, ia tetap bersyukur. Karena perjalanan yang cukup panjang tadi membuat Satria lelah dan ia langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

Langit mulai gelap dan udara semakin dingin. Satria yang duduk di atas kasurnya terlihat sedang mencari informasi terbaru tentang hari ini, dan dia mendapatkan berita bahwa virus yang awalnya ada di China, kini sudah masuk ke Indonesia. Dan pemerintah Indonesia pun mengeluarkan aturan PSBB yang membuat seluruh kegiatan masyarakat terhambat karena semuanya harus dilakukan dari rumah masing-masing. Bahkan, ini sangat berdampak bagi pelajar dan mahasiswa karena harus menjalani kegiatan belajarnya melalui daring. Jadi, dengan keadaan yang mendesak mereka harus bisa segera beradaptasi. Setelah itu, Satria langsung berdoa tentang keadaan yang terjadi kemudian pergi beristirahat.

Tiba saatnya hari pertama kuliah, dan sudah terlihat bahwa Satria siap untuk belajar. Tapi kali ini berbeda, hanya dengan modal gadget dan kuota internet, Satria bisa ikut kegiatan belajar melalui aplikasi Zoom.

    "Selamat pagi anak-anak. Bagaimana keadaan kalian semua? Sehat?" tanya dosen mereka.

     "Sehat, Pak" jawab serentak mahasiswa itu.

    "Berhubung kita saat ini diperhadapkan keadaan, yang dimana mewajibkan kalian untuk belajar dari rumah masing-masing, jadi bapak harap kalian harus bisa selalu menyiapkan kuota internet agar bisa mengikuti kegiatan belajar dengan baik" jelas dosen mereka.

Mendengar perkataan dosen itu, membuat Satria berniat untuk mencari kerja sampingan, karena uang yang diberikan orang tuanya itu tidaklah cukup untuk kebutuhan hidupnya di kota, apalagi tiap bulannya Satria harus bisa membayar uang sewa rumah dan membeli kuota internet untuk belajar. Dan walaupun Satria bisa pulang ke rumah orang tuanya, dia tetap tidak mau pulang karena Satria tidak ingin membebani orang tuanya lagi. Pada saat itu, ternyata pemilik rumah kos nya mempunyai warung, kemudian Satria berniat menawarkan dirinya untuk bisa bekerja di warung pemilik kos itu sebagai penjaga warung. 

    "Permisi bu, apakah saya boleh bekerja di sini sebagai penjaga warungnya ibu?" tanya Satria dengan sopan.

    "Ohh kebetulan saya memang lagi cari orang nih yang bisa bantu saya jaga warung. Karena anak saya masih kecil dan suka rewel. Jadi saya kerepotan kalau sambil jaga warung ini" jawab ibu itu.

    "Pas banget yah bu, saya juga lagi butuh uang supaya bisa membiayai hidup saya di kota ini" ucap Satria sambil menghela napas lega.

Hari berjalan seperti biasanya, sebelum mulai belajar Satria menyempatkan waktu untuk menjaga warung dan setelah selesai belajar dia kembali lagi untuk bekerja. Karena kesibukan Satria yang seperti ini sudah berjalan hampir 2 tahun lamanya, membuat Satria merasa sangat capek dan jenuh.

    "Ternyata menjadi orang sukses itu susah. Apalagi jika harus tinggal sendirian di kota, kuliah sambil bekerja, dan menghadapi situasi pandemi seperti ini yang membuat aku tidak bisa bertemu langsung dengan teman baru"

    "Apakah aku boleh berhenti kuliah ya?"

Lamunan Satria ini sontak membuat dia teringat akan pesan ayahnya, kalau dia harus semangat menggapai cita-citanya, juga mengingat perjuangan yang sudah ia lakukan selama SMA untuk meningkatkan nilainya agar bisa kuliah di kota ini.

Beberapa tahun kemudian, setelah Satria lulus kuliah. Dia mendapatkan pekerjaan yang bagus di salah satu perusahaan ternama di kota. Selama bekerja di sana, Satria hanya akrab dengan salah satu pegawai perempuan, ia bernama Mulia.

    "Satria, nanti kita pulang bareng yah, sekalian kita makan siang. Soalnya ada yang mau aku ceritain nih" ucap Mulia.

   "Waduh, kerjaanku numpuk banget ini. Kayaknya aku bakal pulang agak lambat" jawab Satria.

    "Oke, aku bantuin deh. Biar cepat kelar" balas Mulia.

    "Kita nanti makan di warteg aja ya, mau hemat nih" ucap Satria.

    "Gak masalah, asalkan bisa kenyang" jawab Mulia.

Hari demi hari, kedekatan mereka semakin terlihat. Tingkah laku Mulia yang ceria dapat membuat Satria jatuh hati kepadanya. Tetapi, mengingat pembicaraan mereka yang lalu, bahwa orang tua Mulia tidak suka dengan hubungan mereka saat ini, karena mereka berbeda keyakinan. Meskipun itu, Satria tetap akan berusaha agar selalu bisa bersama dengan Mulia.

Pelan-pelan Satria mulai memperdalam agamanya dengan membaca kitab setiap hari. Dan mulai mengajak Mulia untuk berdiskusi tentang agama, tetapi Mulia selalu terlihat tidak tertarik membicarakan topik itu. Karena itulah, hubungan mereka makin renggang dan mulai tidak berkomunikasi lagi. Ternyata pada malam itu, Satria mencoba untuk menelpon Mulia agar bisa menanyakan kabarnya.

    "Satria, aku enggak bisa jauh dari kamu. Tapi aku takut sama orang tuaku, mereka pasti marah kalau tahu tentang ini" ucap Mulia, sebelum Satria sempat menanyakan kabarnya terlebih dahulu.

   "Mulia, aku tahu gimana perasaanmu. Bagaimana jika kamu berikan penjelasan dengan baik dulu ke orang tuamu, bahwa kamu yakin dengan keputusanmu dan siap menghadapi resikonya ke depan" jelas Satria dengan lembut.

    "Baiklah akan ku coba. Besok aku beritahu kamu yah gimana hasilnya" jawab Mulia.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk meyakinkan Mulia dan orang tuanya agar kekasihnya itu bisa menjadi penganut agama yang sama dengannya.

Beberapa bulan kemudian, Satria mendapatkan kabar bahwa ibunya sedang sakit. Dengan segera Satria meminta izin kepada orang tuanya Mulia agar anaknya diperbolehkan ikut dengannya ke desa. Orang tua Mulia pun juga langsung mengizinkannya. Setelah mereka sampai di rumahnya, Satria langsung menangis melihat ibunya yang terbaring lemah dikasurnya itu.

   "Ibu...maafkan Satria bu. Selama ini Satria sudah tidak pernah menelpon bahkan menanyakan kabar ibu" ucap Satria sambil berlutut di samping kasur ibunya.

    "Ayah, ibu. Lihat ini pacar Satria, namanya Mulia. Dia juga tinggal di kota yang sama dengan Satria, dan kebetulan kami satu tempat kerja juga" lanjut Satria, yang kemudian ia merasa senang karena bisa melihat senyuman ibunya itu.

   "Halo...tante, om. Perkenalkan nama saya Mulia, pacar Satria" ucap Mulia yang terlihat sedikit menunduk karena gugup.

Satria dan Mulia memutuskan untuk tinggal beberapa minggu di rumah orang tuanya Satria. Mulia setiap harinya selalu menemani dan menjaga ibunya Satria, sedangkan Satria kembali membantu ayahnya di sawah. Selama mereka tinggal di desa, kondisi ibunya Satria semakin memburuk, yang kemudian mereka membawa ibunya itu ke rumah sakit. Tetapi waktu sudah terlambat, ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, ibunya Satria telah pergi untuk selamanya. Pada saat itulah, Satria tidak bisa berhenti menangis dan meminta maaf kepada ibunya, meskipun dia tahu bahwa itu semua sudah sia-sia.

    "Sudah, nak. Ikhlaskan ibumu, nak. Tuhan sayang sama ibu, jadi ibumu sekarang tidak merasakan sakit lagi. Tugasmu sekarang hanya mendoakan ibu supaya dia bisa tenang di sana" ucap ayahnya itu sambil mengelus kepala Satria.

    "Tapi ayah, Satria belum sempat membahagiakan ibu malahan selama ini Satria buat ibu sakit hati, karena Satria lupa dengan pesan ibu" jawab Satria dengan tersedu-sedu.

    "Sudahlah, nak. Kan kamu tidak sendirian di sini. Masih ada ayah dan Mulia" ucap ayahnya.

Dua hari setelah pemakaman ibunya, Satria mengajak ayahnya untuk ikut pulang dengan mereka ke kota, karena Satria ingin selalu bersama dengan ayahnya supaya dia tidak kehilangan ayahnya lagi.

    "Ayah, ikut kami ke kota yah. Satria takut kalau ayah tinggal sendirian di sini. Nanti tidak ada yang mengurus dan menemani ayah" ucap Satria. Tetapi ayahnya tidak langsung menjawab karena masih memikirkan keputusannya sambil melihat-lihat seisi rumahnya yang penuh dengan kenangan bersama istrinya itu. Tidak lama kemudian, ayahnya menghampiri Satria.

    "Baiklah, ayah mau ikut dengan kalian. Ayah juga harus bisa berusaha merelakan kepergian ibu" ucap ayahnya.

Setelah beberapa bulan Satria dan ayahnya tinggal bersama di rumah kos, tempat tinggal Satria itu. Akhirnya, Satria bisa membeli rumah baru, di salah satu daerah perumahan di kota. Sehingga mereka sudah bisa tinggal dengan nyaman di rumah. Pada waktu itu, Satria dengan ayahnya sedang asyik mengobrol di ruang tamu, tiba-tiba Satria menanyakan sesuatu yang mengejutkan ayahnya.

    "Ayah, Satria boleh tidak menikah dengan Mulia?" tanya Satria.

    "Apa? Menikah dengan Mulia?" jawab ayahnya.

   "Iya ayah. Satria ingin menikah dengan Mulia, apakah ayah merestuinya?" tanya Satria lagi.

   "Apapun keputusan kamu, ayah selalu mendukungmu. Selagi itu masih benar dan wajar, toh kalian juga sudah lama berpacaran kan" jawab ayahnya.

Kemudian, Satria langsung memeluk ayahnya itu dan mengucapkan terima kasihnya karena sudah merestui mereka berdua. Keesokan harinya, Satria langsung melamar Mulia.

Tibalah saatnya hari pernikahan Satria dan Mulia, acara itu berjalan dengan lancar dan penuh haru. Tetapi, tidak semua keluarga besar dari mereka berdua bisa hadir langsung dalam acara pernikahan mereka, karena mengingat kondisi saat ini yang melarang  untuk membuat kerumunan besar. Namun, mereka semua bisa menyaksikan seluruh acara melalui live streaming.

Akhirnya, setelah beberapa tahun kemudian, kehidupan keluarga Satria kini berjalan dengan penuh kebahagiaan. Ditambah lagi, Satria dan Mulia sekarang telah dikaruniai dua orang anak yang baik dan patuh kepada orang tua.


SELESAI

Rabu, 13 Januari 2021

Merancang Novel

Hai, lama tidak berjumpa kawan.

Bagaimana kabarmu hari ini? semoga dalam keadaan sehat yaa..

Kali ini aku akan memberitahu kalian, bahwa saat ini aku sedang dalam proses pembuatan novel pertama. Dan sekarang aku akan menunjukkan kepada kalian rancangan novelnya, sebagai berikut :

1. Menentukan peristiwa terpilih dan merumuskan masalah-masalah


 2. Menentukan tema, amanat dan rancangan peristiwa/alur singkat


3. Merancang alur novelet
 
4. Mengembangkan tahapan orientasi menjadi cerita utuh novelet

Semoga yang kusampaikan ini dapat bermanfaat dan membantu kalian juga yang ingin membuat novel. Aku juga membutuhkan saran dan kritik dari kalian untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang tidak berkenan.

Rabu, 15 April 2020

Terbukalah

Part 3

Perjalanan menuju Pulau Beras Basah sangat menakjubkan, mulai dari air laut yang biru dan jernih, disertai angin sepoi-sepoi yang sejuk, sehingga dapat membuat semua beban yang mereka miliki itu pun menghilang dalam sekejap. Mereka juga tidak melupakan kebiasaan jika berada di tempat seperti ini yaitu ber swafoto. Foto yang dapat mengabadikan semua momen yang tidak dapat di ulang kembali. Memang, menikmati suasana tenang seperti ini kadang membuat lupa akan semuanya, hingga pada akhirnya mereka telah tiba di Pulau Beras Basah tersebut.

“Wahhh.. cantik sekali pulau ini“ kata Felin yang terkagum melihat pesona Kalimantan Timur ini.

“Tidak sia-sia kita memilih tempat ini. Semua lelah yang aku rasakan sekarang ini sudah terbayarkan oleh keindahan alam ini“ kata Pingky.

“Iya benar, Ping. Aku juga merasa sangat beruntung berkunjung ke tempat ini. Sakit yang ku rasakan perlahan-lahan mulai menghilang, yang digantikan dengan rasa syukur kepada Tuhan yang tiada habisnya“ balas Andini dengan tangan yang di letakkan di depan dada dan mata yang terpejam juga senyuman lebar di bibirnya.

“Teman-teman, ayo cepat!“ teriak Rena yang sudah berjalan lebih dulu.

“Renaaa tungguin dong!“ balas Felin.

Setelah beberapa menit mereka berjalan kaki, terlihatlah sosok pemuda yang sedang duduk santai sambil bermain gitar di atas sebuah tikar anyaman bambu itu. Ternyata, orang itu adalah Kak Denis sendiri. Ia sudah sampai terlebih dahulu dari mereka berempat yang masih asyik berselfian.

“Ayo dek, kita disini aja yah, soalnya hanya di tempat ini yang terlindung pohon kelapa dari paparan panas matahari“ jelas Denis itu.

“Iya kak“ jawab mereka dengan kompak.

“Kak, kenapa pulau ini di sebut dengan Pulau Beras Basah?“ tanya Andini dengan raut muka penasaran.

“Ohh dulu itu, menurut cerita rakyat setempat. Berasal dari kata “beras" dan “basah". Ada kapal milik Kesultanan Kutai yang sedang berlayar di Selat Makassar. Kapal tersebut membawa bahan pangan yang di antaranya adalah beras. Kapal tersebut tiba-tiba saja karam dan menumpahkan bawaannya. Karena perairan tempat kapal karam tersebut dangkal, mengakibatkan beras-beras yang dibawa tidak semuanya tenggelam, akan tetapi membentuk sebuah gundukan. Lama-kelamaan, gundukan beras tersebut berubah menjadi pulau berpasir putih seperti beras yang selalu basah karena di kelilingi oleh lautan ini“ jelas Denis.

“Ohh iya, apa saja yang dapat dinikmati pengunjung di pulau ini kak, selain dari keindahan alam ini?“ tanya Pingky.

“Kalau itu, di sini bisa menikmati banana boat yang di tarik speed-boat. Juga di pantai ini bisa sekedar berenang, tapi jangan khawatir karena ombak di sini tidak lah besar jadi aman untuk berenang bersama saudara kalian. Setelah berenang dan ingin mandi di sini juga menyediakan kamar mandi, namun airnya harus beli Rp.5000,- untuk satu jerigen berisi 5 liter air. Kan lumayan buat membersihkan garam yang melekat di badan“ jelas Denis lagi.

“Jika ada pengunjung yang ingin menginap di pulau ini, apakah bisa juga kak?“ tanya Felin.

“Kalau untuk menginap, kami tidak menyediakan tempat penginapan, jadi jika ingin bermalam sebaiknya membawa peralatan camping atau bisa memanfaatkan gazebo di sana untuk menikmati malam di pulau ini“ jelas Denis dengan raut muka yang penuh kesabaran.


Sampai jumpa di part selanjutnya👋🏻👋🏻😊

@dwyant21
#15_04_2020

Selasa, 14 April 2020

Terbukalah

Part 2

Keesokan harinya, tepat pukul 07.00 pagi. Mereka sudah tiba di dermaga itu dengan pakaian rapi, tetapi petugas itu belum kunjung datang. Kemudian, Felin pun langsung menelponnya. Tak lama kemudian, petugas itu pun datang dengan gaya yang cukup menarik perhatian mereka berempat. Baju kemeja putih yang berkerah hitam, celana jeans hitam, juga dengan sepatu kets nya. Tanpa basa basi pun Felin langsung menghampirinya.

“Ini bapak yang kemarin itu kan?“ tanya Felin dengan santai.

“Iya dek, tapi tolong jangan panggil saya bapak. Karena saya baru lulus sekolah dua tahun yang lalu. Apa mungkin wajah saya yang terlihat tua?“ kata petugas itu.

“Maaf kak, soalnya kemarin juga kita belum sempat kenalan. Jadi, yah.. tidak tahu mau panggil dengan sebutan apa“ balas Rena.

“Kalau gitu panggil saya Kak Denis aja" jawab Denis dengan kesal.

Tatapan mata yang sinis dan ujung alis yang mulai turun pun mulai terlihat di wajah Denis. Membuat mereka takut kepada orang itu. Denis pun langsung menghubungi orang yang membawa kapal kecil itu untuk menjemput mereka di dermaga. Beberapa menit kemudian, kapal kecil itu pun tiba. Dan semuanya pun langsung naik ke kapal itu.


Sampai jumpa di part selanjutnya👋🏻👋🏻😊

@dwyant21
#14_04_2020

Senin, 13 April 2020

Terbukalah

Part 1

Ada seorang gadis cantik yang berambut panjang dan lurus, memakai kaos berwarna putih polos yang di lapisi dengan jaket jeans. Namanya Felinista Angelia, ketua dari Starhits. Turun dari bus kota yang mengantar mereka ke dermaga Tanjung Limau, Bontang. Kemudian, ada tiga cewek yang mengikutinya dari belakang. Mereka adalah Rena, Pingky dan Andini. Empat orang ini merupakan salah satu geng yang populer di SMA Jaya Mulawarman itu. Suatu keberuntungan, mereka dapat menjadi satu kelompok dalam tugas observasi ini. Sehingga, mereka dapat menjalankan tugas sambil bersenang-senang.

Felin langsung menyuruh Pingky, si gadis pemalu itu untuk mencari informasi dengan petugas di dermaga itu. Tetapi, Pingky malu untuk bertanya dengan petugas di sana. Karena cahaya mentari semakin meredup, Felin pun langsung turun tangan untuk bertanya langsung kepada petugas itu.

“Permisi pak, kami kan mau adakan observasi di Pulau Beras Basah. Tetapi, kami juga butuh orang yang mengetahui seluk beluk dari Pulau itu. Jadi, apakah bapak tahu siapa orang yang cocok buat kami jadikan sebagai pemandu selama kami di Pulau Beras Basah?” tanya Felin

“Ohh... kalau gitu sama saya aja, dek. Kebetulan ayah saya merupakan salah satu pelopor dari tempat wisata itu. Jadi, saya dapat menggali informasi sedalam-dalamnya“ jawab petugas itu.

“Oke terima kasih, pak. Bolehkah kami minta nomor WA?“ tanya Felin.

“ Ohh iya.. nih" jawab petugas itu sambil menyodorkan hp nya ke Felin.

Setelah itu, salah satu dari mereka pun tiba-tiba,

“Huweekk, huweekk” suara muntah dari Andini yang terdengar menjijikkan, dan mukanya pun terlihat pucat.

“Ihh kok kamu muntah di sini sih, Din!“ teriakan jijik dari Rena pun membuat mereka berempat  kaget.

“Sudah, sudah, Ren. Kan dia lagi sakit. Kamu tau sendiri kan dia itu orangnya tukang mabuk kalau jalan jauh. Apalagi tadi bus nya itu ada AC nya, yah.. tambah kambuh lah penyakitnya“ ejek Pingky.

“Apasih kamu, Ping! Bikin malu aja” jawab Andini dengan suara yang terdengar seperti orang berbisik.

“Yaudah, kalau gitu. Kita lanjutkan besok aja perjalanannya. Aku juga sudah capek nih duduk di bus berjam-jam“ kata Felin.

“Baik pak, kita besok pagi jam 07.00 ketemuan di sini lagi yah pak“ lanjut Felin.

“Iyaa dek“ jawab petugas itu.

Setelah mereka memutuskan perjalanannya untuk di lanjutkan besok pagi. Mereka pun pergi ke tempat penginapan yang letaknya tak jauh dari dermaga itu untuk beristirahat.


Sampai jumpa di part selanjutnya👋🏻👋🏻😊

@dwyant21
#13_04_2020

Sabtu, 11 April 2020

Saturday?

Hari ini adalah :

Hari yang paling ditunggu-tunggu setelah capeknya sekolah fullday.

Hari yang digunakan untuk mengadakan suatu perkumpulan di suatu tempat dan merundingkan suatu masalah atau rencana.

Hari yang digunakan oleh pemuda Gereja untuk beribadah bersama.

Hari yang paling ditunggu oleh sebuah keluarga untuk menikmati liburan semalam.

Semua tempat wisata ramai pengunjung, mendapatkan keuntungan lebih banyak daripada biasanya.

Tetapi sekarang, tidak bisa merasakan apa yang sudah dirasakan pada beberapa bulan yang lalu. Semuanya tampak dilakukan di kediaman masing-masing.
Semua hari suasananya sama saja. Tidak ada yang spesial, tidak ada yang paling dinantikan. Semuanya terlihat sunyi dan hening.



.
.
.
.
.
.
.
@Dwyant21
#11_04_2020



Jumat, 10 April 2020

Perayaan Jumat Agung

Hai bloggers... Salam sejahtera bagi kita semua

Apa kabar kalian hari ini?
Aku harap kalian baik-baik saja yah😊 dan jangan cepat bosan yah untuk baca blog dari aku ini.


Tepat pada hari ini, kaum Nasrani merayakan Hari Jumat Agung yang memiliki arti Hari Kematian Yesus Kristus di kayu salib, tapi sayangnya pada tahun ini tidak bisa melakukan ibadah di Gereja bersama jemaat yang lainnya😔, dikarenakan ada aturan dari pemerintah yang mewajibkan masyarakatnya untuk selalu di rumah, kecuali untuk hal mendesak dan sangat penting, boleh saja keluar rumah tetapi harus memakai masker dan membawa hand sanitizer misalnya membeli bahan pangan. Semuanya itu, harus kita patuhi demi memutus rantai penyebaran Covid-19 ini.
Walaupun adanya aturan yang seperti itu, semangat untuk beribadah tidak akan hilang, karena sekarang zamannya sudah modern yang bisa menggunakan sosial media sebagai alat media untuk berbagi renungan atau bisa melakukan ibadah bersama keluarga di rumah.

Cukup sampai disini yah teman..
Terimakasih kepada teman-teman yang sudah membaca ini sampai akhir😊
Sampai jumpa di blog aku selanjutnya👋🏻👋🏻


Selamat Hari Jumat Agung🙏🏼 bagi yang merayakan😊
#10_04_2020

Satria, Si Anak Tangguh

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak laki-laki yang berusia 16 tahun dan baru duduk di kelas 3 SMA, ia bernama Satria. Dia merupakan anak t...