Perjalanan menuju Pulau Beras Basah sangat menakjubkan, mulai dari air laut yang biru dan jernih, disertai angin sepoi-sepoi yang sejuk, sehingga dapat membuat semua beban yang mereka miliki itu pun menghilang dalam sekejap. Mereka juga tidak melupakan kebiasaan jika berada di tempat seperti ini yaitu ber swafoto. Foto yang dapat mengabadikan semua momen yang tidak dapat di ulang kembali. Memang, menikmati suasana tenang seperti ini kadang membuat lupa akan semuanya, hingga pada akhirnya mereka telah tiba di Pulau Beras Basah tersebut.
“Wahhh.. cantik sekali pulau ini“ kata Felin yang terkagum melihat pesona Kalimantan Timur ini.
“Tidak sia-sia kita memilih tempat ini. Semua lelah yang aku rasakan sekarang ini sudah terbayarkan oleh keindahan alam ini“ kata Pingky.
“Iya benar, Ping. Aku juga merasa sangat beruntung berkunjung ke tempat ini. Sakit yang ku rasakan perlahan-lahan mulai menghilang, yang digantikan dengan rasa syukur kepada Tuhan yang tiada habisnya“ balas Andini dengan tangan yang di letakkan di depan dada dan mata yang terpejam juga senyuman lebar di bibirnya.
“Teman-teman, ayo cepat!“ teriak Rena yang sudah berjalan lebih dulu.
“Renaaa tungguin dong!“ balas Felin.
Setelah beberapa menit mereka berjalan kaki, terlihatlah sosok pemuda yang sedang duduk santai sambil bermain gitar di atas sebuah tikar anyaman bambu itu. Ternyata, orang itu adalah Kak Denis sendiri. Ia sudah sampai terlebih dahulu dari mereka berempat yang masih asyik berselfian.
“Ayo dek, kita disini aja yah, soalnya hanya di tempat ini yang terlindung pohon kelapa dari paparan panas matahari“ jelas Denis itu.
“Iya kak“ jawab mereka dengan kompak.
“Kak, kenapa pulau ini di sebut dengan Pulau Beras Basah?“ tanya Andini dengan raut muka penasaran.
“Ohh dulu itu, menurut cerita rakyat setempat. Berasal dari kata “beras" dan “basah". Ada kapal milik Kesultanan Kutai yang sedang berlayar di Selat Makassar. Kapal tersebut membawa bahan pangan yang di antaranya adalah beras. Kapal tersebut tiba-tiba saja karam dan menumpahkan bawaannya. Karena perairan tempat kapal karam tersebut dangkal, mengakibatkan beras-beras yang dibawa tidak semuanya tenggelam, akan tetapi membentuk sebuah gundukan. Lama-kelamaan, gundukan beras tersebut berubah menjadi pulau berpasir putih seperti beras yang selalu basah karena di kelilingi oleh lautan ini“ jelas Denis.
“Ohh iya, apa saja yang dapat dinikmati pengunjung di pulau ini kak, selain dari keindahan alam ini?“ tanya Pingky.
“Kalau itu, di sini bisa menikmati banana boat yang di tarik speed-boat. Juga di pantai ini bisa sekedar berenang, tapi jangan khawatir karena ombak di sini tidak lah besar jadi aman untuk berenang bersama saudara kalian. Setelah berenang dan ingin mandi di sini juga menyediakan kamar mandi, namun airnya harus beli Rp.5000,- untuk satu jerigen berisi 5 liter air. Kan lumayan buat membersihkan garam yang melekat di badan“ jelas Denis lagi.
“Jika ada pengunjung yang ingin menginap di pulau ini, apakah bisa juga kak?“ tanya Felin.
“Kalau untuk menginap, kami tidak menyediakan tempat penginapan, jadi jika ingin bermalam sebaiknya membawa peralatan camping atau bisa memanfaatkan gazebo di sana untuk menikmati malam di pulau ini“ jelas Denis dengan raut muka yang penuh kesabaran.
Sampai jumpa di part selanjutnya👋🏻👋🏻😊
@dwyant21
#15_04_2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar